Selasa, 11 Mei 2010

CTL: APA DAN BAGAIMANA APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

Anang Santoso
Fakultas Sastra UM
[1]
Pada tiga atau empat tahun terakhir, kita para pelaksana pendidik-an—khususnya pada tingkatan sekolah menengah umum ke bawah—mendapat begitu banyak exposure dalam pelaksanaan pendi-dikan dan pengajarannya. Baru saja kita semua menerapkan secara lebih tepat pendekatan kebermaknaan dalam kurikulum 1994 dan suplemen 1997(?), kita kemudian dicecar dengan berbagai “inovasi” dalam pendidikan, seperti manajemen berbasis sekolah, penelitian tindakan kelas, pembelajaran gotong-royong, pembelajaran kuantum, CTL, dan sebagainya termasuk di dalamnya adalah kurikulum berbasis kompetensi.
Kedatangan mereka itu kita sambut dengan berbagai ragam sikap. Ada yang menyambutnya dengan adem-ayem. Kelompok ini menyikapinya dengan pikiran dan perilaku yang apatis. Mereka akan bertanya “pembaharuan apa lagi ini, bosan ah”. Ada juga yang menyambutnya dengan “tergopoh-gopoh”. Kelompok ini me-nyikapinya dengan berbagai pikiran dan perilaku “latah” dan berbagai bentuk keterpukauan terhadap berbagai hal yang “baru” atau “dianggap baru”. Mereka akan menyambutnya dengan ungkapan “wow keren”. Ada yang menyambutnya dengan normal-normal saja. Kelompok ini menyikapinya dengan pikiran dan perilaku yang tepat guna dan tidak berlebihan sesuai dengan medan pendidikan yang dikelolanya. Mereka akan menyambutnya berdasar pada sebuah keniscayaan akan pembaharuan di satu sisi dan pandangan bahwa “tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” pada sisi yang lain.
[2]
Dalam pembaharuan pendidikan itu beberapa konsep kunci dielaborasi (kembali). Beberapa konsep kunci itu antara lain sebagai berikut. Pendidikan haruslah memiliki link and match. Pendidikan harus mengembangkan prinsip relevansi. Pendidikan haruslah menyenangkan, tidak membosankan. Pendidikan haruslah mengem-bangkan sisi kepribadian anak didik secara komprehensif. Pendi-dikan haruslah mengembangkan sikap bekerja sama. Pembelajaran haruslah bermakna. Jangan mengajarkan sesuatu yang tidak ada di sekitar anak. Pendidikan haruslah relevan dengan dunia nyata. Masukan yang diberikan kepada anak didik haruslah “i+1”, jangan “i+2”, “i+3”, dan seterusnya, atau sebaliknya “i-1”, “i-2”, dan se-terusnya. Dalam pendidikan siswa haruslah aktif, guru hanya se-bagai fasilitator. Dalam pendidikan, sekolah haruslah mengem-bangkan semua potensi yang ada di sekolah itu. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
Semua itu dilakukan semata-mata agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik, lebih bermakna, lebih tahan lama, lebih sesuai dengan lingkungannya, dan lebih-lebih lainnya. Apakah konsep kunci yang dielaborasi itu “binatang baru”? Tentu saja bukan.
[3]
CTL, “binatang” apakah itu? Konsep barukah itu? Atau, konsep lama yang diberi baju baru? Sudahkah saya ber-CTL sewaktu mengajar selama ini? Begitu kunokah saya jika tidak mengetahui konsep CTL? Rahwanakah dia itu? Atau sebaliknya, Dewi Sintakah dia?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu bergelayut pada diri kita masing-masing saat banyak kolega membincangkan tentang pendekatan terbaru dalam pembelajaran yang diberi label “pembelajaran kontekstual” sebagai terjemahan dari contextual teaching and learning (CTL). Kita sebagai pelaksana pendidikan dan pengajaran pada tingkat sekolah menengah umum ke bawah mungkin saja disibukkan untuk mencari jawabannya. Itu wajar. Mengapa? Dalam kurikulum 2004 istilah kontekstual disebut-sebut. Dalam aplikasinya, guru haruslah membelajarkan siswa-siswanya dengan berlandaskan konteks. Selain itu, CTL yang diadaptasi—atau bahkan diadopsi—dari negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, amatlah menggoda penyelenggara pendidikan di Indonesia. Sampai-sampai ada studi pascasarjana yang memfokuskan kajiannya pada CTL.
Pada paparan berikut disajikan “apa” dan “bagaimana” CTL. Paparan “apa” menjawab berbagai pertanyaan berbagai konsep tentang CTL. Paparan “bagaimana” menjawab pertanyaan tentang aplikasi CTL dalam pendidikan.
[3]
Apakah pembelajaran kontekstual itu? Cukup banyak definisi pem-belajaran kontekstual. Hal ini dapat diperhatikan pada Johnson (2002), The Washington State Consortium for CTL (2001), NWREL (2002), TEACHNET (2002), seperti dapat ditemukan dalam Nurhadi (2003). Berbagai definisi itu mengemukakan kata-kata kunci sebagai berikut.
• kebermaknaan
• penerapan ilmu
• berpikir tingkat tinggi
• kurikulum terstandar
• berfokus pada budaya
• keterlibatan siswa secara aktif
• asesmen autentik
• bekerja sama,
• mengerjakan pekerjaan yang berarti
• persoalan dunia nyata
• berpikir kritis dan kreatif
• mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesiskan informasi dan data dari berbagai sumber dan sudut pandang
• berbasis masalah
• berbagai macam konteks

Inti dari paparan mereka itu adalah bahwa CTL adalah proses belajar mengajar yang erat kaitannya dengan pengalaman nyata. Dari berbagai definisi yang ada, Nurhadi (2003:13) menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupa mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Berbagai definisi memberikan pemahaman kepada kita bahwa proses pembelajaran tidaklah boleh “vakum” secara sosial, siswa adalah individu yang berkemampuan dan sekaligus memerlukan “orang lain”, guru adalah individu yang terampil merancang pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai konteks.
[4]
Terdapat tujuh komponen utama dalam pendekatan CTL, yakni (1) konstruktivisme, (2) bertanya, (3) inkuiri, (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan, (6) refleksi, dan (7) asesmen autentik.
Konstruktivisme (constructivism). Pengetahuan haruslah dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong (Suyanto, 2002:5). Siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi”, bukan “menerima” pengetahuan.
Bertanya (questioning). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri—yakni (1) menggali informasi, (2) mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan (3) mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Inkuiri (inquiry). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri melalui langkah-langkah tertentu. Guru harus merancang skenario kegiatan yang selalu merujuk pada kegiatan menemukan apa pun materi yang diajarkannya. Pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh siswa akan bersifat tahan lama dan kemudian menjadi bagian dari kehidupannya.
Masyarakat belajar (learning community). Belajar pada hakikatnya adalah kerja gotong royong. Hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, antara yang di dalam kelas dengan yang di luar kelas, antara yang tahu dan yang belum tahu. Kegiatan saling belajar ini dapat terjadi apabila tidak ada yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap komponen harus berasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman yang berbeda yang perlu dipelajari oleh orang lain. Orang lain adalah “sumber belajar”.
Pemodelan (modelling). Sebuah pembelajaran haruslah me-nyediakan “apa yang dapat ditiru”, ada model yang dapat ditiru. Model dapat berasal dari siswa yang sudah tahu, guru, atau dari orang-orang di luar sekolah. Guru bahasa dapat memberi contoh melafalkan bunyi tertentu. Guru OR memberi contoh cara melem-par bola. Siswa yang pernah juara lomba puisi dapat memberi con-toh cara membacakan puisi. Guru agama dapat memberi contoh cara cara bersujud atau duduk di antara dua sujud. Guru kimia memberi contoh cara mencampur bahan kimia di laboratorium. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Refleksi (reflection). Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru saja dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan pada masa sebelumnya. Menurut Suyanto (2002:11) melalui refleksi siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Ungkapan seperti “Kalau begitu, cara saya membaca kamus selama ini salah, ya. Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, saya akan menemukan kata secara lebih cepat dan akurat!”
Asesmen autentik (authentic assesment). Asesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses belajar dengan benar. Asesmen dilakukan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, tidak melulu pada hasil. Menurut Suyanto (2002:13) hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar asesmen autentik meliputi (1) proyek/ kegiatan, (2) pekerjaan rumah, (3) kuis, (4) karya siswa, (5) presentasi atau penampilan siswa, (6) demonstrasi, (7) laporan, (8) jurnal, (9) hasil tes, dan (10) karya tulis.
[5]
Menurut Suyanto (2002:14) terdapat sebelas kata kunci dalam pembelajaran berbasis CTL sebagai berikut.
• kerjasama
• saling menunjang
• gembira
• belajar dengan bergairah
• pembelajaran terintegrasi
• menggunakan berbagai sumber
• siswa aktif
• menyenangkan, tidak membosankan
• sharing dengan teman
• siswa kritis
• guru kreatif

Dari kata kunci di atas, pembelajaran kontekstual akan bersing-gungan dengan konsep-konsep dalam pembelajaran kuantum, pembelajaran gotong royong, pembelajaran komunikatif, CBSA, manajemen berbasis sekolah, pembelajaran berbasis proses, pendidikan diperluas, pengajaran berbasis masalah, pengajaran berbasis inkuiri, pengajaran autentik, pengajaran berbasis proyek, pengajaran berbasis kerja, pengajaran berbasis jasa layanan, dan sebagainya.
[6]
Apa yang harus kita lakukan? Jika selama ini sebagai guru kita sudah membelajarkan anak dengan prinsip-prinsip kontekstual, kita tinggal meningkatkan pelayanan kita pada anak didik. Kita tinggal menyempurnakan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Jika belum, kita dapat mengaplikasikan konsep-konsep baru di dalam pembelajaran kita. Yang jelas kita tidak boleh terlalu latah, gumunan, dan kagetan dengan sesuatu yang dianggap baru itu. Dalam berbagai kesempatan saya (Santoso, 2003a; 2003b) mene-gaskan bahwa apa pun bentuk pembaharuan pendidikan peran guru tetaplah sentral. Jika disuruh memilih antara “pendekatan/ metode yang baik” dan “guru yang baik”, saya memilih yang ter-akhir. Selamat berkontekstual!

DAFTAR RUJUKAN

Degeng, Nyoman S. 2001. Belajar-Mengajar Quantum. Makalah seminar. Malang: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran, Universitas Negeri Malang.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta:Grasindo.
Nurhadi, Yasin, Burhanuddin, & Senduk, Agus Gerrad. 2003. Pem-belajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Ma-lang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Santoso, Anang. 2003a. Beberapa Catatan tentang Model-Model Pembelajaran PPKn Terpadu untuk SD: Studi Kasus di Kalsel. Makalah Seminar Hasil Penelitian Pengembangan Model-Mo-del Pembelajaran PPKn Terpadu untuk Wilayah Provinsi Kal-sel Kerjasama Direktorat Pendidikan Dasar dan Universitas Negeri Malang, di Banjarmasin 3 Agustus.
Santoso, Anang. 2003b. Pembelajaran Keterampilan Menulis: Yang Terpenting adalah Guru. Makalah Seminar dan Pelatihan Baca-Tulis untuk Guru-Guru SLTP se-Indonesia, di Universitas Negeri Semarang, Juni 2003.
Suparno. 2001. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekat-an Kontekstual. Makalah disajikan dalam Seminar Sehari Menyongsong Pemberlakuan Kurikulum Baru Bidang Studi Bahasa Indonesia, 22 Oktober, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.
Suyanto, Kasihani K.E., Latief, Adnan, & Nurhadi. 2002. Pembel-ajaran Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning). Makalah disajikan dalam Kegiatan Sosialisasi CTL bagi dosen UM, 15 Februari, di Fakultas Sastra UM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar