Minggu, 09 Mei 2010

NAFAS KREATIF, INOVATIF, DAN AKTIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Anang Santoso

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, UM

1. Pengantar

K

REATIF, KREATIF, KREATIF. INOVATIF, INOVATIF, INOVATIF. AKTIF, AKTIF, AKTIF. Itulah tiga kata kunci yang selalu dituntut kepada kita saat mengajar. Tiga istilah itu saling berkaitan dan saling kebergantungan. Jika kreatif, baguslah pembelajaran kita. Jika belum atau tidak kreatif, kurang baguslah pembelajaran kita. Jika penuh inovasi, acungan jempol layak diacungkan kepada pembelajaran kita. Jika tidak atau kurang inovasi, acungan jempol terbaliklah yang layak kita peroleh. Jika aktif, pembelajaran kita akan menyenangkan. Jika tidak aktif, pembelajaran tidak menyenangkan. Demikian seterusnya.

Pada tahun 1977—1980, ketika saya masih duduk di SMP, guru Bahasa Indonesia saya adalah guru favorit saya. Beliau amat “hebat” dalam mengajarkan mata pelajaran yang sebelumnya tidak begitu saya sukai itu. Beliau amat hebat dalam mengajarkan puisi “Aku”. Beliau amat hebat dalam mengajarkan menulis surat. Beliau amat hebat mengajarkan tata bahasa. Setelah sekarang baru saya sadar bahwa beliau itu adalah orang-orang yang “lebih hebat” dari “hebat”.

Saya juga mempunyai guru favorit lainnya, yakni guru matematika. Pak Kabul namanya. Beliau alumni PGSLP, bukan sarjana muda seperti guru yang lainnya. Beliau amatlah piawai dalam menerangkan konsep matematika yang tidak mudah kepada kami sehingga kami menjadi mudah memahaminya. Masalah-masalah matematika yang sering membuat kami pusing, seperti “himpunan”, “persamaan” dan “pertidaksamaan”, deret aritmatika, dan sebagainya dibelajarkan secara mudah.

Pada waktu itu, belum muncul pelbagai istilah pembelajaran yang sekarang menjadi arus besar dalam dunia pendidikan. Istilah-istilah seperti “pendekatan komunikatif”, “pendekatan kebermaknaan”, “pendekatan proses”, “manajemen berbasis sekolah”, “joyful learning”, quantum learning and teaching”, “contextual teaching and learning, “pembelajaran inovatif”, “kurikulum berbasis kompetensi (KBK)”, penilaian autentik, penilain berbasis kelas, dan sebagainya. Akan tetapi, apa yang dipertunjukkan kepada kami sudah memenuhi berbagai konsep dalam dunia kependidikan itu. Meskipun belum mengenal pelbagai istilah itu, mengapa beliau-beliau itu hebat dalam membelajarkan siswa?

Apa yang dapat kita petik dari paparan di atas adalah pentingnya peran utama guru dalam membelajarkan siswa. Kurikulum boleh berganti, teori belajar boleh terus lahir, pendekatan boleh bertambah, paradigma baru boleh menggulingkan paradigma lama, dan seterusnya. Akan tetapi, peran utama guru tetap menjadi fokus. Guru tetap menjadi aktor utama. Guru yang “banyak akal” tetap menjadi dambaan.

Apa yang masih kita ingat dari guru kita ketika mengajar lebih dari 30 tahun yang lalu? Tentu saja, guru yang mengajarnya biasa-biasa saja, tidak akan diingat siswa. Sebaliknya, guru yang ketika mengajarnya “banyak akal’ akan terus hidup dalam ingatan para mantan siswanya.

Guru yang “hebat” bagi saya adalah variabel yang amat penting dalam menyukseskan berbagai macam pembaharuan dalam kurikulum. Kurikulum boleh tidak sempurna, cacat, atau amburadul, tetapi “guru hebat” akan dapat mengolah kegiatan belajar mengajar menjadi bagus untuk menghasilkan keluaran yang dapat diandalkan. Yang penting kita semua adalah sikap “tidak mudah terkejut dan tidak mudah heran” dengan berbagai pendekatan baru itu. Marilah kita rayakan motto “3G”: GURU, GURU, GURU.

2. Pembelajaran Kreatif, Inovatif, dan Aktif: Beberapa Pengertian

Apakah pembelajaran kreatif itu? Pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang pelaksanaannya banyak diwarnai penciptaan-penciptaan baru. Apakah pembelajaran inovatif itu? Pembelajaran inovatif adalah bentuk pembelajaran yang pelaksanaannya dijiwai dan diwarnai oleh kegiatan-kegiatan yang bersifat pembaharuan. Apakah pembelajaran yang selama ini kita lakukan itu belum menunjukkan ciri inovatif? Jawabnya “sudah”, meskipun dengan tingkatan yang belum sepenuhnya kita harapkan. Apakah pembelajaran yang sudah berlangsung sampai hari ini itu salah sama sekali? Tidak. Pembelajaran yang selama ini kita lakukan mungkin saja masih kurang dijiwai dan diwarnai sifat “memperbarui” itu. Bukankah kita-kita yang hadir dalam forum ini adalah hasil dari pembelajaran yang hari ini kita “cela” dan kita “koreksi”?

Dengan demikian, persoalan inovatif dalam pembelajaran bukan persoalan ada atau tidak ada. Akan tetapi, persoalan inovatif bersifat kontinum, bersifat rentangan, dari sedikit inovasi sampai dengan penuh dengan inovasi, dari pembelajaran yang sedikit mengandung pembaharuan sampai pembelajaran yang penuh dengan pembaharuan.

Pertanyaannya adalah “mengapa pembelajaran yang sudah berlangsung selama ini kok dapat menghasilkan sesuatu yang membanggakan”? Tentu saja banyak jawaban yang dapat dikemukakan. Misalnya, karena ketulusan Ibu dan Bapak Guru dalam mengajar, karena si peserta didik sudah bekerja keras dalam mencapai cita-cita, karena waktu itu belum ada pesaing yang tangguh, karena nasib, dan sebagainya. Banyak penjelasan yang dapat kita berikan.

3. Mengapa Harus “Kreatif”, Inovatif”, dan “Aktif”?

Mengapa pembelajaran harus “kreatif”, “inovatif”, dan “aktif”? Mengapa pembelajaran harus selalu identik dengan “penuh penciptaan”, “selalu menemukan sesuatu yang baru”, dan aktif berbuat? Tentu saja, banyak jawaban yang dapat dikemukakan, banyak argumen yang memperkuat perdebatan. Pertama, selama manusia hidup jika ingin dapat bertahan ia harus selalu berinovasi dan menciptakan sesuatu. Hidup identik dengan tantangan. Tidak ada waktu tanpa tantangan. Seorang guru, misalnya, akan selalu menghadapi tantangan terkait dengan dunia pendidikan. Misalnya, tantangan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada siswa, tantangan menemukan model-model pembelajaran yang cocok, tantangan untuk meningkatkan kualitas pribadi, tantangan untuk menggerakkan orang tua agar lebih terlibat dengan sekolah, dan sebagainya.

Kedua, inovasi dan penciptaan yang membuat manusia tetap disebut manusia. Secara filosofis, aspek utama dalam perkembangan peradaban manusia adalah “kreativitas” dan “inventivitas”. Kedua aspek itulah yang membedakannya dengan dunia binatang. Perkembangan paradigma pendidikan, teori pembelajaran, model baju, bentuk rumah, dan sebagainya adalah bukti bahwa ada sisi “perkembangan” pada kehidupan manusia. Pada kehidupan hewan tidak ada “perkembangan”. Burung manyar yang sering kita sebut dengan “hebat” karena dapat membuat rumah atau sarang yang tampak rumit itu ternyata tidak ada dimensi “kreativitas” dan “inventivitas”-nya. Sejak dahulu bentuk dan model rumah manyar tidak ada perubahan dan tidak ada perkembangan.

Ketiga, inovasi dan penciptaan membuat masyarakat dapat bersaing dengan masyarakat lainnya. Ungkapan homo homini lupus ‘manusia itu serigala bagi manusia lainnya’ perlu ditafsirkan secara positif. Agar tidak menjadi mangsa bagi manusia lainnya dan agar dapat “memangsa” manusia lainnya, manusia haruslah selalu mengembangkan inovasi. Dengan inovasi manusia dapat menemukan terobosan-terobosan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Masyarakat dan negara yang sekarang disebut dengan “negara maju” adalah masyarakat yang berhasil mengembangkan inovasi-inovasi itu.

4. Pelajaran dari Konfusius dan Silberman

Marilah kita camkan lagi pernyataan Konfusius, seorang filsuf yang mashur dari Tanah Tiongkok, yang dikemukakannya lebih dari 2400 tahun silam.

· YANG SAYA DENGAR, SAYA LUPA

· YANG SAYA LIHAT, SAYA INGAT

· YANG SAYA KERJAKAN, SAYA PAHAMI

Nasihat mulia Konfusius di atas sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya pembelajaran. Tiga kata kerja, yakni “dengar”, “lihat”, dan “kerjakan” adalah aktivitas yang identik dengan pembelajaran. Kita selalu melakukan aktivitas mendengar, melihat, dan mengerjakan sesuatu dalam belajar. Yang perlu dicamkan adalah bahwa ketiga kata kerja memiliki implikasi yang tidak sama. Mana yang kita inginkan, aktivitas “dengarà lupa”, “lihatà ingat”, atau “kerjakanà paham”? Tentu saja, aktivitas “kerjakanà paham”-lah yang kita inginkan.

Oleh Silberman, seorang guru besar Psikologi Pendidikan dari Temple University, rumus Konfusius di atas dikembangkan dan dimodifikasikan seperti berikut.

AKTIVITAS

EFEK

· Saya MENDENGAR

à

· Saya LUPA

· Saya MENDENGAR & MELIHAT

à

· Saya SEDIKIT INGAT

· Saya MENDENGAR, MELIHAT, & MEMPERTANYAKAN/ MENDISKUSIKAN

à

· Saya MULAI PAHAM

· Saya MENDENGAR, MELIHAT, MEMBAHAS, & MENERAPKAN

à

· Saya MENDAPATKAN PENGETAHUAN & KETERAMPILAN

· Saya MENGAJARKAN kepada orang lain

à

· Saya MENGUASAI

Sumber: Silberman (2006:23)

Semakin lengkaplah pemahaman kita bahwa jika kita menghendaki siswa atau peserta didik menguasai ilmu pengetahuan yang kita ajarkan maka anak diharapkan tidak hanya mendengar dan melihat saja. Anak harus lebih banyak melakukan aktivitas mulai mendengar, melihat, membahas, dan menerapkan agar apa yang kita ajarkan itu menjadi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh anak.

5. Posisi Pembelajaran Kreatif, Inovatif, dan Aktif: Dari P(A)(K)EM ke P(A)(K)EM(I)

Pada awalnya, pembelajaran haruslah memiliki ciri-ciri “aktif”, “kreatif”, “efektif”, dan “menyenangkan”. Pembelajaran di sekolah yang akhirnya lebih dikenal dengan nama PAKEM ini semula dicanangkan di TK dan SD. Pendidikan yang peserta didiknya masih pada tahap “awal belajar” ini meniadakan ciri-ciri “pasif”, “stagnan”, “boros”, dan “membosankan”. Seluruh sistem pendidikan harus dapat mendorong subjek didik untuk menjadi aktif, kreatif, efektif, dan senang selama mereka mengalami proses belajar. Guru yang terlalu dominan dan menguasai kelas yang memungkinkan anak tidak dapat berbuat aktif tidak dikehendaki dalam PAKEM. Guru yang hanya mengandalkan “pengalaman-pengalaman” lama yang mungkin saja membosankan dan sudah kadaluarsa serta tidak mencoba menemukan sesuatu yang baru tidak mendapatkan tempat dalam PAKEM. Pembelajaran yang tidak berfokus kepada kompetensi dasar (KD) yang terumuskan dalam kurikulum yang memungkinkan terjadinya pemborosan tenaga, waktu, dan biaya, serta salah sasaran bertolak belakang dengan hakikat PAKEM. Pembelajaran yang berlangsung secara tegang, mencekam, tidak ada humor yang konstruktif dan fungsional yang membuat siswa tegang, serta tidak ada senyum yang membuat siswa takut sangat dibenci oleh PAKEM.

Di manakah letak pembelajaran inovatif dalam PAKEM? Perkembangan terbaru PAKEM menyertakan kata “inovatif” di dalamnya. Terbentuklah akronim atau singkatan PAKEMI. Jika demikian, perluasan konsep PAKEM menjadi PAKEMI menuntut sekolah untuk dapat menindaklanjuti dalam pembelajarannya. Pengajaran dan pembelajaran tidak hanya “aktif”, “kreatif”, “efektif”, dan “menyenangkan” saja, tetapi juga inovatif. Jika demikian, pembelajaran yang sudah menerapkan konsep PAKEM selama ini tinggal menyempurnakannya dengan menambah kegiatan-kegiatan yang inovatif. Menurut pandangan saya, pembelajaran dengan mengaplikasikan PAKEM yang sukses berimplikasi terhadap munculnya semangat inovatif dalam pembelajaran di sekolah. Siswa yang dapat aktif dan kreatif selama di kelas dapat mengoptimalkan seluruh perangkat rohani yang dimilikinya. Jika perangkat rohani dapat dioptimalkan, semangat-semangat inovatif dapat diharapkan.

Semangat inovatif dapat ditumbuhkan melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang sifatnya “berpetualang”, “memecahkan masalah”, dan “lain dari biasanya”. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, misalnya KD berwawancara dengan tokoh masyarakat, tidak hanya berkutat di dalam kelas saja. Ia dapat dikemas melalui kunjungan ke lapangan, misalnya ke kantor polisi untuk mewawancarai polisi, atau ke pasar untuk mewawancarai pedagang yang sukses.

6. Apa yang Perlu Dilakukan dalam P(A)(K)EM(I)

6.1 Paradigma Pendidikan yang Cocok

Untuk menunjang dan mendasari pembelajaran inovatif, pendidikan khususnya pembelajaran, haruslah menempatkan dan mengambil cara pandang konstruktivisme. Constructivism adalah salah satu filsafat yang percaya bahwa pengetahuan yang kita miliki adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukan gambaran dari dunia kenyataan yang ada, tetapi merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Proses pembentukan pengetahuan ini berjalan terus-menerus dan setiap kali ada reorganisasi karena terjadi suatu pemahaman baru.

Menurut cara pandang konstruktivistik mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Kata-kata kunci dari pandangan Konfusius dan Silberman yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan sangatlah bercorak konstruktivistik.

6.2 Penumbuhan Kegemaran Membaca

Mengapa membaca itu penting? Membaca berpengaruh terhadap pengembangan potensi anak. Penelitian Ravitch & Finn menunjukkan bahwa membaca berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif anak. Membaca membuat orang lebih cerdas. Penelitian Simonton juga menunjukkan hasil yang senada bahwa kegemaran membaca pada masa kanak-kanak berkorelasi positif terhadap keberhasilan pada masa dewasa. Kebiasaan membaca adalah cara yang dapat membekali pembaca dengan pengetahuan yang luas.

Beberapa kegiatan yang dapat diterapkan sekolah untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Pertama, menjadwalkan kunjungan ke perpustakaan sekolah secara periodik (misalnya sekali seminggu). Perpustakaan itu sumber pengetahuan. Kepada anak-anak perlu ditanamkan kecintaan dan kebutuhan akan perpustakaan. Pada tahap selanjutnya anak menjadi pembelajar yang mandiri. Perpustakaan perlu memantau perkembangan kebiasaan membaca anak dengan merekam jumlah buku yang dibaca. Siswa diberi kesempatan untuk melaporkan apa yang sudah dibacanya (judul, pengarang, sinopsis sederhana, & komentar)

Kedua, mengadakan perpustakaan kelas. Lingkungan anak yang kaya bacaan akan mengundang anak untuk membaca. Untuk itu perlu perpustakaan kelas. Jika mengalami kesulitan, sekolah dapat mengikutsertakan orang tua dalam pengadaan perpustakaan kelas. Koleksi pustaka perlu diperbaharui secara periodik.

Ketiga, menerapkan USSR (Uninterupted Sustained Silent Reading). USSR dapat dilakukan rutin setiap hari (10—45 menit). Semakin tinggi kelas semakin lama kegiatan membacanya. Anak-anak membaca mandiri dalam hati selama waktu tertentu secara terus-menerus tanpa interupsi. Anak-anak tidak boleh melakukan kegiatan apa pun selain membaca. Prosedur yang dapat ditempuh (1) materi terserah pilihan anak, (2) siswa tidak perlu dibebani dengan tugas yang sulit (kecuali merekam judul, pengarang, dan komentar singkat, (3) guru tidak perlu dibebani dengan tugas koreksi, dan (4) sekolah dapat memberi nama kegiatan ini dengan nama, misalnya: “membaca ...yes”, “membaca...ok”, “membaca ... oye”, “membaca ... magetan”, atau yang lain.

Keempat, mengadakan dialog buku (book talks). Siswa saling berbagi tentang bacaan yang telah dibacanya. Kegiatan dapat dirancang melalui diskusi kelas, diskusi kelompok, atau studium generale, & bersifat suka rela. Bahkan, bisa saja seorang murid yang pemalu, misalnya, dapat berdiskusi dengan gurunya saja seorang diri.

Kelima, membacakan bacaan pada anak-anak dengan bersuara (read aloud) secara rutin. Guru membacakan sebuah buku dengan bersuara dan anak-anak menyimak. Buku yang dibaca disesuaikan dengan minat dan usia perkembangan anak. Usahakan agar pembacaannya menarik. Agar anak terlibat, sebelum buku dibaca, tunjukkan judul, pengarang, ilustrasi bacaan, & selanjutnya anak-anak disuruh menerka isi bacaan. Saat membaca guru merencanakan perlu berhenti di bagian tertentu, minta anak untuk komentar tentang yang sudah dibaca, dan memprediksi cerita selanjutnya. Usai dibaca, anak diberi kesempatan menghubungkannya dengan pengalaman hidup mereka, atau menghubungkannya dengan buku-buku lain yang sudah mereka baca.

6.3 Guru yang Konstruktivistik

Guru konstruktivistik (GK) adalah guru yang memberikan peluang dan kesempatan berkembang anak didiknya. GK tidak tersinggung dengan peran-peran yang harus dimainkan oleh peserta didik abad informasi. Secara ekstrem dirumuskan bahwa guru (atau siapa pun) tidak dapat memaksa siswa untuk belajar sebab tidak ada seorang pun yang dapat “mengatur” proses berpikir orang lain. Guru hanyalah menyiapkan kondisi yang memungkinkan siswa belajar, namun apakah siswa benar-benar belajar bergantung sepenuhnya pada diri pembelajar itu sendiri.

Dalam pembelajaran, GK selalu berusaha agar seluruh kegiatannya di dalam kelas memberikan peluang siswa untuk selalu menemukan sesuatu yang baru. GK selalu memberikan peluang-peluang siswa mencari terobosan baru.

GK akan selalu memiliki daya cipta, strategi baru, dan melepaskan dari rutinitas pada saat situasi memerlukan perubahan. Ia tidak sulit untuk menye-suaikan diri dengan situasi dan kondisi baru. Keberanian untuk tidak terjebak pada sesuatu yang rutin adalah nilai tambah bagi GK.

6.4 Penataan Ruang Kelas yang Variatif

Lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif, kreatif, dan inovatif. Tidak ada satu susunan yang mutlak ideal. Ruang tempat siswa beraktivitas ditata sedemikian rupa agar mudah dibentuk dengan pelbagai macam formasi. Penataan bangku dengan bentuk tradisional (siswa menghadap ke papan tulis/ke guru) perlu lebih divariasikan. Banyak bentuk penataan yang dapat dipilih, mulai bentuk U, meja konferensi, lingkaran, model auditorium, dan sebagainya.

Dengan variasi susunan itu, siswa memperoleh pelbagai pengalaman yang kaya dan dalam. Ia berpengalaman berhadapan dengan pelbagai karakter teman-nya, berpengalaman berdiskusi dengan pelbagai orang, berpengalaman berbagi dengan banyak kepala, berpengalaman memecahkan masalah dengan berbagai cara pandang. Akhirnya, siswa memperoleh pengalaman rohani yang beragam yang selanjutnya dapat memicu munculnya ide-ide inovatif.

6.5 Pemilihan Metode yang Mengaktifkan Siswa

Kegiatan belajar aktif, kreatif, dan inovatif tidak dapat berlangsung tanpa partisipasi siswa. Guru dapat memilih metode pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Secara periodik, misalnya, setiap satu semester sekali, sekolah atau kelas dapat mengadakan “kuliah kerja lapangan” atau out-bound di sekitar sekolah. Banyak manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan ini antara lain sebagai berikut.

  • Siswa senang mendapat tantangan baru.
  • Siswa belajar mendapat tanggung jawab lebih.
  • Siswa mendapat banyak pengalaman yang mungkin saja tidak ditemukan di sekolah dan di rumah.
  • Siswa senang berpetualangan.
  • Siswa belajar lebih memahami kepribadian orang lain.
  • Siswa berlatih hidup mandiri, sekaligus terikat oleh kelompoknya.
  • Siswa dapat membuat lebih banyak pilihan-pilihan cerdas.

6.6 Perancangan Tugas yang Bersahabat

Tugas yang dirancang haruslah bervariasi sehingga dapat membuat siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Tugas dirancang dengan mengoptimalkan seluruh fisik dan psikis anak.

  • Mendiskusikan sebuah dokumen singkat secara bersama
  • Mewawancarai satu sama lain tentang reaksi terhadap bacaan.
  • Memberikan kritik karya tertulis sejawat.
  • Mengajukan pertanyaan kepada pasangan tentang teks yang dibaca.
  • Membuat ikhtisar dari teks yang dibaca bersama
  • Membuat ikhtisar dari teks yang dibaca di perpustakaan sekolah.
  • Menyusun pertanyaan bersama yang diajukan kepada guru.
  • Menganalisis soal cerita, latihan, atau eksperimen secara bersama.
  • Mengetes sesama sejawat.
  • Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
  • Membandingkan catatan dengan sejawat tentang pelajaran yang baru saja diterima.

7. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang KIA

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia hendaknya mengembangkan keterampilan berbahasa dan bersastra. Keterampilan berbahasa dan bersastra itu adalah membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Pada umumnya, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia hendaknya memperhatikan beberapa hal. Hal yang dimaksud adalah (1) banyak (jumlah), (2) berkali-kali (keseringan), (3) unik (khas pembelajaran bahasa dan sastra), dan (4) menantang. Jika ingin pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berhasil, guru hendaknya membelajarkan siswa untuk menulis sebanyak mungkin, sesering mungkin dengan pembelajaran yang unik dan bahan yang menantang. Hal ini juga berlaku untuk pembelajaran membaca, menyimak, dan berbicara.

Selain hal itu, kita sudah mengenal istilah PAKEMI (pembelajaran, aktif, kreatif, efektif, menarik, dan inovatif). Berikut ini akan diuraikan secara singkat, bagaimana pembelajaran masing-masing keterampilan berbahasa dan kemampuan bersastra yang inovatif.

7.1 Pembelajaran Membaca Inovatif

Mengapa perlu pembelajaran membaca yang inovatif? Beberapa jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagai berikut. Pembelajaran membaca yang inovatif dapat mengembangkan kecepatan membaca siswa secara dramatis; meningkatkan pemahaman dan daya ingat; menambah perbendaharaan kata dan menambah bank data; membaca secara singkat; berekreasi dengan membaca. (lihat DePorter dan Hernacki, 2003: 245). Selain itu, sesuai dengan standar kompetensi dalam kurikulum, diharapkan siswa mampu membaca berbagai ragam teks; menganalisis informasi dan gagasan; memberikan komentar, menyeleksi dan mensintesiskan informasi dari berbagai sumber (Kurikulum 2004).

Ada beberapa hal yang bisa dibahas dalam membicarakan pembelajaran membaca yang inovatif. Hal yang dimaksud antara lain adalah (1) proses pembelajaran membaca, (2) bahan pembelajaran, (3) hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran membaca. Berikut ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

Proses Pembelajaran Membaca

Bagaimana proses pembelajaran membaca yang diharapkan? Dalam pembelajaran membaca, guru dapat membelajarkan siswa membaca nyaring, membaca dalam hati (ekstensif dan intensif), membaca telaah isi (membaca teliti, pemahaman, kritis, ide) (Tarigan, 1993). Guru juga bisa membelajarkan membaca berdasarkan isi bacaan (ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, sains), medianya (majalah, koran, kamus, buku telepon, buku teks), jenis bacaan (popular, serius, cerpen, puisi, drama). Guru juga bisa membelajarkan membaca dengan cara (1) membaca bersama (2) membaca terbimbing, (3) pendekatan pengalaman bahasa, (4) studi kata, (5) terus membaca diam, membaca mandiri (Cox,1999).

Bahan Pembelajaran Membaca

Mulailah pembelajaran membaca dengan bahan yang akrab dan menyenangkan siswa tetapi masih mengandung informasi yang kira-kira tidak diketahui siswa (akrab, menyenangkan, dan menantang). Kedua, bahan membaca harus bervariasi dalam hal isi, bahasa, dan penyajiannya.

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Membaca

Beberapa hal yang perlu dikatakan kepada siswa tentang membaca. Guru hendaknya menanamkan dan meyakinkan kepada siswa bahwa membaca itu mudah. Siswa mampu menjadi pembaca yang hebat. Siswa dapat membaca dengan cepat dan memahami is bacaannya (DePorter dan Hernacki, 2003:253).

Ada beberapa kiat untuk membaca. Siswa diminta untuk mempersiapkan diri. Kita perlu menciptakan suasana sehat untuk membaca dan meminimalkan gangguan. Siswa hendaknya duduk dengan sikap tegak. Sebelumnya, siswa diminta untuk beberapa saat untuk menenangkan pikiran. Siswa diminta untuk membaca dengan menggunakan jari atau benda lain sebagai petunjuk. Siswa diminta untuk melihat sekilas bahan bacaan sebelum memulai membaca (DePorter dan Hernacki, 2003:255).

DePorter dan Hernacki (2003:265) mengenalkan kiat untuk memahami bacaan. Mereka menyarankan agar kita menjadi pembaca yang aktif. Kita hendaknya membaca gagasannya, bukan kata-katanya. Kita hendaknya melibatkan seluruh indra kita. Kita hendaknya menciptakan minat. Terakhir, kita hendaknya membuat peta pikiran bahan bacaan tersebut.

Untuk meningkatkan kecepatan dan pemahaman, DePorter dan Hernacki, (2003:279) menyarankan agar kita mengikuti rutinitas ini selama sepuluh menit setiap hari. (1) Pilihlah tempat yang tenang untuk membaca. (2) Periksalah fisiologi Anda. (3) Lihat buku itu sekilas selama satu menit. (4) Putar balik buku itu dan berlatihlah membalik-balik halaman. (5) Putar kembali buku itu dalam posisi yang benar. (6) Lihatlah ke langit-langit dan pikirkan tentang suatu tempat yang damai. (7) Tarik napas dalam-dalam. (8) Lihatlah ke arah buku dan mulai membaca. (9) Balikkan halaman secara benar. (10) Gunakan jari-jari Anda dan ikuti suatu pola. (11) Ajukan pertanyaan pada diri Anda saat membaca.

Semua jenis membaca perlu dilatihkan dan ada gunanya. Membaca regular biasanya digunakan untuk bacaan santai atau ringan. Membaca skimming (melihat dengan cepat) adalah cara membaca seperti kita melihat buku telepon atau kamus. Membaca Scanning (melihat sekilas) adalah cara membaca seperti kita membaca Koran. Membaca kecepatan tinggi (warp speed) adalah membaca dengan kecepatan tinggi dan dengan pemahaman yang menakjubkan (DePorter dan Hernacki, 2003:267).

7.2 Pembelajaran Menulis Inovatif

Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Otak kiri berkaitan dengan perencanaan, outline, tata bahasa, penyuntingan, penulisan kembali, penelitian, tanda baca. Otak kanan berkaitan dengan semangat, spontanitas, emosi, warna, imajinasi, gairah, unsur baru, kegembiraan (DePorter dan Hernacki, 2003:179).

Mengapa kita perlu pembelajaran menulis yang inovatif? Dengan ini, siswa dapat menemukan teknik-teknik curah gagasan (brainstorming) yang cepat dan mudah. Siswa dapat menciptakan bahasa yang hidup dengan menggunakan cara dan ungkapan siswa sendiri. Siswa melakukan proyek penulisan dariu awal hingga akhir dengan hanya sedikit stress. Akhirnya siswa selalu berharap untuk menulis (DePorter dan Hernacki, 2003:177). Selain itu, ini juga agar siswa mampu untuk menulis karangan fiksi dan nonfiksi dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif untuk menimbulkan efek dan hasil tertentu.

Bagaimana caranya mengatasi hambatan-hambatan masalah lembaran kosong? Caranya dengan menulis cepat. Bagaimana cara menulis cepat? DePorter dan Hernacki (2003:187) menyarankan beberapa hal untuk menulis cepat. (1) pilihlah suatu topik. (2) Gunakan timer untuk jangka waktu tertentu. (3) Mulailah menulis secara kontinu walaupun apa yang Anda tulis adalah: “Aku tak tahu apa yang harus kutulis!”. (4) Saat timer berjalan, hindari pengumpulan gagasan, pengaturan kalimat, pemeriksaan tata bahasa, pengulangan kembali, mencoret atau menghapus sesuatu. (5) Teruskan hingga waktu habis dan itulah saatnya berhenti.

Ada beberapa hal yang bisa dibahas dalam membicarakan pembelajaran menulis yang inovatif. Hal yang dimaksud antara lain adalah (1) proses pembelajaran menulis, (2) bahan pembelajaran, (3) hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran menulis. Berikut ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

Proses Pembelajaran Menulis

Bagaimana proses pembelajaran menulis yang diharapkan? Dalam pembelajaran menulis, guru dapat membelajarkan siswa berbagai macam keterampilan menulis (menulis cepat, menulis indah). Guru juga bisa membelajarkan menulis berdasarkan isinya (ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, sains), medianya (majalah, koran, kamus, buku, jurnal, portofolio), jenis tulisan (popular, serius, cerpen, puisi, drama).

Bahan Pembelajaran Menulis

Mulailah pembelajaran menulis dengan bahan yang akrab dan menyenangkan siswa tetapi masih mengandung informasi yang kira-kira tidak diketahui siswa (akrab, menyenangkan, dan menantang). Kedua, bahan menulis harus bervariasi dalam hal isi, bahasa, dan penyajiannya.

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Menulis

Ada proses menulis yang efektif untuk semua bentuk tulisan. Proses (1) pramenulis (2) penulisan, (3) penulisan kembali dan (4) publikasi (Farris, 1993:182). Tahapan menulis yang lebih rinci dikemukakan Tompkins (1994:182) yaitu pramenulis, penulisan draf, revisi, penyempurnaan, dan publikasi. Ada juga yang membagi atas persiapan, draft kasar, berbagi, memperbaiki, penyuntingan, penulisan kembali, evaluasi (lihat DePorter dan Hernacki, 2003:195).

DePorter dan Hernacki (2003:199) memberikan kiat-kiat untuk memperlancar penulisan. Kiat-kiat itu adalah: mulailah secepatnya, putarlah musik, cari waktu yang tepat, berolah ragalah, bacalah apa saja, mengelompok-kelompokkan pekerjaan, gunakan warna-warna.

DePorter dan Hernacki (2003:201) juga mengemukakan kiat-kiat supaya tidak mengalami hambatan menulis. Kita disarankan untuk menghemat kertas kesayangan kita. Kita hendaknya menempatkan diri pada sisi yang lain. Mereka menyarankan agar kita menyingkir dari tulisan kita. Kita perlu melanggar aktivitas rutin kita. Kita perlu mengganti alat-alat tulis. Lingkungan kita perlu kita ubah. Terakhir, kita perlu berbicara kepada oran lain tentang proyek kita.

7.3 Pembelajaran Menyimak Inovatif

Dalam Kurikulum 2004 ada beberapa hal yang dituntut dari siswa berkenaan dengan kemampuan menyimak. Siswa hendaknya berdaya tahan dalam berkonsentrasi mendengarkan berbagai konteks sampai dengan seratus dua puluh menit dan mampu memahami dan peka terhadap gagasan, pandangan, dan perasaan orang lain secara lengkap dalam uraian, khotbah, pidato, ceramah, dialog, dan film serta mampu memberikan pendapat dan penilaian.

Ada beberapa hal yang bisa dibahas dalam membicarakan pembelajaran menyimak yang inovatif. Hal yang dimaksud antara lain adalah (1) proses pembelajaran menyimak, (2) bahan pembelajaran, (3) hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran menyimak. Berikut ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

Proses Pembelajaran Menyimak

Bagaimana proses pembelajaran menyimak yang diharapkan? Dalam pembelajaran menyimak, guru dapat membelajarkan siswa berbagai macam keterampilan menyimak (menyimak cepat, menyimak pemahaman). Guru juga bisa membelajarkan menyimak berdasarkan isinya (ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, sains), medianya (radio, televisi, telepon, tape, VCD, DVD), jenis bahan simakan (popular, serius, cerpen, puisi, drama). Guru dapat mengembangkan kemampuan menyimak siswa melalui pertanyaan, problem solving dan brainstorming, pengelompokan dan pemetaan, membaca bersuara bercerita, wawancara, dan bercerita (lihat Cox, 1999).

Bahan Pembelajaran Menyimak

Mulailah pembelajaran menyimak dengan bahan yang akrab dan menyenangkan siswa tetapi masih mengandung informasi yang kira-kira tidak diketahui siswa (akrab, menyenangkan, dan menantang). Kedua, bahan menyimak harus bervariasi dalam hal isi, bahasa, dan penyajiannya.

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Menyimak

Ada beberapa hal yang perlu dilatihkan kepada siswa dalam menyimak. Pertama, siswa diminta utuk mendengarkan secara aktif. Sebelum dan pada saat menyimak, mereka diminta untuk terus mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri berkaitan dengan bahan yang disimak. Kedua, siswa diminta untuk mengamati secara cermat. Setiap pembicara mempunyai gaya yang khas. Untuk itu, pendengar pelu memperhatikan ekspresi wajah, gerak-gerik, gerakan tubuh, dan nada suara pembicara. Pembicara mungkin akan mengulangi gagasan-gagasan yang dirasa penting. Ia juga akan menulis atau menunjukkan sesuatu yang penting pada saat ia berbicara. Ketiga, siswa diminta untuk berpartisipasi. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi mereka perlu bertanya jika mereka tidak mengerti. Mereka juga bisa memberikan informasi tambahan dari informasi yang diberikan pembicara. Keempat, sebelum mendengarkan, biasakan siswa untuk mempersiapkan diri dengan membaca atau mencari informasi tentang bahan yang akan dibicarakan. Hal ini akan memudahkan dia untuk mendengarkan bahan yang disimaknya.

7.4 Pembelajaran Berbicara Inovatif

Ada beberapa hal yang bisa dibahas dalam membicarakan pembelajaran berbicara yang inovatif. Hal yang dimaksud antara lain adalah (1) proses pembelajaran berbicara, (2) bahan pembelajaran, (3) hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berbicara. Berikut ini akan dibahas satu per satu secara singkat.

Proses Pembelajaran Berbicara

Dalam Kurikulum 2004 ada beberapa hal yang dituntut dari diri siswa berkaitan dengan kemampuan berbicara. Siswa hendaknya mampu menyampaikan ceramah; berdiskusi dalam seminar; menyakinkan orang lain, memberi petunjuk, menjelaskan suatu proses secara rici, mengaitkan berbagai peristiwa, mengkritik, dan berekspresi dalam berbagai keperluan dan konteks.

Dalam pembelajaran berbicara, guru dapat membelajarkan siswa berbagai macam keterampilan berbicara (berbicara cepat, berdiskusi, berdebat, berpidato, berbicara indah). Guru juga bisa membelajarkan berbicara berdasarkan isinya (ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, sains), medianya (radio, televisi, telepon, tape, VCD, DVD), jenis bahan pembicaraan (popular, serius, cerpen, puisi, drama). Guru dapat mengembangkan kemampuan berbicara siswa melalui pertanyaan, problem solving dan brainstorming, pengelompokan dan pemetaan, membaca bersuara bercerita, wawancara, dan bercerita (lihat Cox, 1999).

Bahan Pembelajaran Berbicara

Mulailah pembelajaran berbicara dengan bahan yang akrab dan menyenangkan siswa tetapi masih mengandung informasi yang kira-kira tidak diketahui siswa (akrab, menyenangkan, dan menantang). Kedua, bahan berbicara harus bervariasi dalam hal isi, bahasa, dan penyajiannya.

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Berbicara

Mulailah berbicara tentang topik yang mudah, dekat, dikenal, akrab, dan menyenangkan siswa tetapi masih mengandung informasi yang kira-kira tidak diketahui siswa (akrab, menyenangkan, dan menantang). Kedua, bahan berbicara harus bervariasi dalam hal isi, bahasa, dan penyajiannya.

8. Penutup

Melaksanakan pembelajaran inovatif harus menjadi agenda dalam setiap aktvitas sebagai guru. Tantangan yang semakin besar untuk segala bidang menantang guru untuk mempersiapkan siswa menjadi calon generasi yangt berkualitas. Tidak bisa tidak, inovatif adalah kebutuhan. Inovatif, inovatif, inovatif. Selamat berseminar. Selamat melaksanakan pembelajaran yang membuat siswa dapat menjadi lebih aktif, lebih kreatif, dan lebih inovatif. Semoga pembahasan ini bermanfaat. Amin.

DAFTAR RUJUKAN

Aleinikov, Andrei G. 2004. Megakreativitas. Yogyakarta: Niagara

Cox, Carole. 1999. Teaching Language Arts: A Student-and Response-Centered Classroom. Boston: Allyn and Bacon

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdiknas

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2003. Quantum Learning. Bandung: Kaifa

Greene, Rebecca. 2006. Belajar Tak Hanya di Sekolah. Terjemahan oleh Valentinus Eric. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Silberman, Melvin L. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Terjemahan oleh Raisul Muttaqien. Bandung: Penerbit Nusamedia.

Suyanto, Kasihani K.E. 2008. Model-model Pembelajaran. Naskah Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di PSG Rayon 15. Malang: Panitia Setifikasi Guru Rayon 15, Universitas Negeri Malang.

Yamin, Martinis. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Penerbit Gaung Persada Press (GP Press).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar