Senin, 10 Mei 2010

MENGEMBANGKAN KARYA ILMIAH, KHUSUSNYA MAKALAH

1. Pengantar
Makalah ini secara singkat memaparkan berbagai kegiatan yang ditempuh untuk menulis dan mengembangkan sebuah karya ilmiah. Ada tiga yang dipaparkan. Pertama, bagaimana mengembangkan bagian pendahuluan. Ada tiga sub yang dipaparkan: (1) mengembangkan latar belakang, (2) merumuskan masalah, dan (3) merumuskan tujuan. Kedua, bagaimana mengembangkan bagian isi atau bahasan. Dalam bagian ini dipaparkan dua hal, yakni (1) mengembangkan sub-sub bagian, dan (2) berbagai teknik yang dapat dipilih untuk mengembangkan bagian isi. Ketiga, bagaimana mengembangkan bagian penutup. Ada dua yang dikembangkan: (1) merumuskan kesimpulan, dan (2) merumuskan saran-saran.
Makalah ini disusun salah satunya berangkat dari sebuah keprihatinan menyaksikan pelbagai karya ilmiah yang dibuat di lapangan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa meskipun karya ilmiah sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik kita, namun masih banyak yang belum sepenuhnya menguasai, mulai dari format sampai penggunaan bahasa.
2. Menguraikan Bagian Pendahuluan
Sebuah karya ilmiah, misalnya, makalah paling tidak dibangun dari tiga unsur, yakni (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, dan (3) tujuan.
2.1 Menguraikan Latar Belakang
Dalam latar belakang paling tidak berisi: (1) paparan tentang penting dan manfaat judul, (2) gambaran umum yang akan dibahas, dan (3) penegasan kepada pembaca bahwa masalah yang diangkat itu penting dan perlu diketahui pembacanya. Untuk menguraikan latar belakang terdapat empat macam, yakni (1) telaah kasus negatif, (2) telaah kasus positif, (3) kutipan pakar, dan (4) informasi yang cukup dikenal dan akrab dengan pembaca.
Dalam teknik telaah kasus negatif, penulis menguraikan kelemahan, kekurangan, kegagalan, kejelekan, atau sejenisnya tentang kondisi yang selama ini terjadi terkait dengan hal yang dibahas. Kalau kita menulis tentang “bantuan operasional sekolah” atau BOS, misalnya, penulis dapat menampilkan keberhasilan program BOS. Misalnya: membantu siswa membeli buku dan membantu sekolah melaksanakan program-programnya.
Dalam teknik telaah kasus positif, penulis menguraikan keunggulan, kelebihan, keberhasilan, kebaikan, atau sejenisnya tentang kondisi yang selama ini terjadi terkait dengan hal yang dibahas. Kalau kita menulis tentang BOS, kita dapat mengemukakan kegagalan pelaksanaan program BOS. Misalnya, penyelewengan oleh orang yang berwenang, ketidaktepatan peruntukan dana BOS, dan sebagainya.
Dalam teknik kutipan pakar, penulis dapat memulai tulisannya dengan mengutip pandangan, pendapat, atau opini pakar terkait dengan bidang yang sedang dibahas. Tentu saja, pemilihan pakar haruslah sesuai dengan bidang yang sedang dikaji dengan memperhatikan prestasi dan integritas. Kalau menulis tentang BOS, penulis dapat mengemukakan pendapat pakar tentang peran bantuan pendidikan atau mengutip hasil penelitian terkait dengan BOS.
Dalam teknik pemberian informasi yang dikenal pembaca, penulis dapat menginformasikan kejadian-kejadian sehari yang dekat dengan pembaca tentang masalah yang sedang dibahas. Kalau menulis tentang BOS, penulis dapat mengemukakan pengalaman orang-orang tua di sekitar sekolah atau pengalaman guru dan kepala sekolah terkait dengan BOS.
2.2 Menguraikan Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah bagian dalam tulisan kita yang akan menjadi pokok atau sumber uraian karya ilmiah. Dengan demikian, rumusan masalah yang baik adalah rumusan yang “mudah”, “jelas”, dan “eksplisit” untuk dijabarkan ke dalam bagian-bagian selanjutnya. Rumusan masalah pada umumnya dirumuskan dalam kalimat tanya. Tentu saja, kalimat tanya yang dipilih adalah kalimat tanya yang jawabnya jelas dan perlu penjabaran. Rumusan masalah yang jawabnya “ya” atau “tidak” tidak tepat dimunculkan dalam karya ilmiah.
Rumusan masalah berbunyi “adakah nilai edukatif dalam novel Harimau-Harimau” bukanlah rumusan yang baik. Mengapa? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak memerlukan penjabaran. Apabila rumusan itu kita kemukakan dalam makalah kita, maka bagian isi atau bahasan dalam karya kita cukup diuraikan dengan menjawab “ada”. Rumusan itu dapat diperbaiki menjadi “nilai-nilai edukatif apa saja yang terdapat dalam novel Harimau-Harimau”.
Rumusan berbunyi “sejauh mana peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu” bukanlah rumusan masalah yang baik. Kata “sejauh mana” itu tidak jelas ukurannya sehingga akan sulit untuk dijabarkan. Sebaliknya, rumusan berbunyi “bagaimanakah peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu” atau “faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam kesuksesan program BOS di Kabupaten Belu” adalah rumusan yang relatif lebih baik.
2.3 Menguraikan Tujuan
Rumusan tujuan adalah jabaran atau rumusan lain dari rumusan masalah. Jika masalah dirumuskan dalam kalimat tanya, rumusan tujuan dikemukakan dalam kalimat berita. Rumusan tujuan haruslah linear dengan rumusan tujuan. Yang menjadi persoalan dalam menguraikan tujuan adalah memilih kata kerja yang mengawali rumusan kita. Kata-kata “mengetahui” yang sering kita jumpai untuk mengawali rumusan tujuan adalah kata yang kurang operasional. Dengan demikian kata tersebut tidak terlalu tepat dalam merumuskan masalah. Sebaliknya, kata-kata, sepert “menjelaskan”, “memaparkan”, “mendeskripsikan”, dan “menguraikan” adalah kata-kata operasional yang banyak dipilih penulis. Kata-kata tersebut cocok untuk merumuskan masalah dalam tulisan keilmuan kita.
Rumusan tujuan berbunyi “mengetahui peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu” bukanlah rumusan yang baik. Rumusan tersebut dapat direvisi menjadi “memaparkan peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu” adalah rumusan tujuan yang seharusnya kita pilih dalam tulisan kita.
3. Menguraikan Bagian Isi
Ada dua hal penting dalam menguraikan bagian isi ata bahasan, yakni (a) penjabaran masalah ke dalam sub-sub bahasan, dan (b) teknik-teknik menguraikan bagian bahasan.
3.1 Menjabarkan ke dalam Sub-sub Judul Bagian Isi
Menjabarkan sub-sub bagian dari rumusan masalah dan tujuan adalah kompetensi yang harus dimiliki seorang penulis. Jabaran yang berhasil akan memudahkan pembaca memahami karya ilmiah, demikian juga sebaliknya.
Tulisan yang baik akan jelas kelinearan antara rumusan masalah, tujuan, dan bahasan. Ketiga unsur berada dalam satu garis lurus. Perbedaan ketiga adalah pada rumusannya. Jika rumusan masalah berupa kalimat tanya, rumusan tujuan adalah kalimat berita, subjudul isi berupa frasa benda. Linearitas antara rumusan masalah, tujuan, dan isi atau bahasan dapat diperhatikan pada tampilan berikut.
Rumusan Masalah Tujuan Isi atau Bahasan
1. Bagaimanakah peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu? 1. Memaparkan peran sekolah dalam menyukseskan program BOS di Kabupaten Belu. 2.1 Peran Sekolah dalam Menyukseskan Program BOS di Kabupaten Belu
2. Faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam kesuksesan program BOS di Kabupaten Belu? 2. Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam kesuksesan program BOS di Kabupaten Belu. 2.2 Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Kesuksesan Program BOS di Kabupaten Belu

Dalam tampilan tersebut dapat diketahui tiga hal berikut. Pertama, rumusan masalah dikemukakan dalam kalimat tanya dengan kata-kata tanya “bagaimana” dan “apa” dan diakhiri tanda tanya. Kedua, rumusan tujuan dikemukakan dalam kalimat berita yang diawali dengan verba “memaparkan” dan “menjelaskan”. Ketiga, rumusan sub-sub isi atau bahasan dikemukakan dalam bentuk frasa benda.
3.2 Teknik-teknik Menguraikan Bagian Isi
Ada sepuluh teknik untuk menguraikan bagian isi. Sepuluh teknik itu adalah (1) pemberian contoh, (2) perbandingan dan kontras, (3) klasifikasi, (4) analisis proses, (5) analisis sebab-akibat, (6) (9) analogi, dan (10) definisi.
Teknik Pemberian Contoh.
Teknik ini diawali dengan mengemukakan kalimat topik (KT) kemudian diikuti dengan contoh-contoh (C). Dalam kalimat topik dikemukakan tesis atau gagasan pokok tentang suatu hal. Dalam contoh-contoh dikemukakan pelbagai contoh yang memperjelas gagasan pokoknya itu. Teknik ini dapat dirumuskan dengan “KT + C1 + C2 + Cn”. Mula-mula dalam paragraf tertentu kita tampilkan kalimat topik, kemudian diikuti dengan sejumlah contoh yang mendukung atau relevan.
Contoh:
Hutan di kawasan Jawa Timur mengalami rusak berat, bahkan musnah. Ini dapat ditemukan di kawasan barat, utara, timur, selatan, dan tengah. Hutan-hutan di kawasan Magetan, Madiun, dan Ponorogo sebagian besar telah berubah menjadi bukit-bukit tandus karena penebangan liar. Kawasan sekitar Sarangan dan Tawangmangu yang dulu dikenal memiliki hutan lebat, sekarang tinggal cerita.
Di kawasan x ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di kawasan y ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di kawasan z ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Teknik Perbandingan (Persamaan dan Kontras)
Teknik perbandingan menguraikan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan dua hal yang dibandingkan. Perlu diketahui bahwa yang dibandingkan memiliki kesamaan derajat. Membandingkan nangka jawa dan cempedak kalimantan adalah tepat karena memiliki klasifikasi yang sama. Membandingkan cempedak kalimantan dengan pepaya thailand adalah tidak benar karena keduanya tidak dalam satu klasifikasi. Teknik persamaan diuraikan dengan menampilkan kalimat topik (KT) dan diikuti dengan paparan tentang persamaan-persamaannya (S), yang tentu saja lebih dari satu. Teknik ini dapat dirumuskan “KT + S1 + S2 + Sn”.
Contoh:
Batu dan Sarangan memiliki beberapa persamaan. Kedua daerah berada di dataran tinggi. Dengan demikian, selain kedua daerah itu berhawa dingin juga sama-sama penghasil sayur-sayuran yang berkualitas. Batu dan Sarangan juga merupakan tempat wisata yang potensial. Banyak turis, baik domestik maupun mancanegara, yang berkunjung dan tentu saja banyak membawa devisa yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia.
Batu ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sarangan -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teknik kontras diuraikan dengan menampilkan kalimat topik (KT) dan diikuti dengan paparan tentang perbedaan-perbedaannya (B) yang tentu saja juga lebih dari satu. Teknik ini dapat dirumuskan “KT + B1 + B2 + Bn”.
Contoh:
Pantun dan syair memiliki beberapa perbedaan. Pertama, pantun berasal dari tanah Nusantara, syair berasal dari Jazirah Arab. Kedua, pantun dibangun dari sampiran dan isi, syair dibangun dari isi saja. Ketiga, pantun bersajak a-b-a-b, syair bersajak a-a-a-a.
Pantun ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Syair -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teknik Analogi
Analogi adalah membandingkan sesuatu dengan hal yang lain. Dalam analogi yang ditekankan adalah persamaan-persamaannya. Teknik analogi dikemukakan dengan menampilkan kalimat topik (KT) dan diikuti dengan analogi (A) dalam kalimat penjelasnya. Teknik ini dapat dirumuskan dengan “KT + A1 + A2 + An”.
Contoh:
Lembaga pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan dapat disamakan dengan pabrik. Jika lembaga-lembaga pendidikan mengeluarkan lulusan-lulusannya, pabrik mengeluarkan produksinya. Suatu lembaga pendidikan yang berhasil mengeluarkan lulusan yang bermutu akan mendapat penilaian yang tinggi dari masyarakat, sebagaimana masyarakat juga menilai tinggi terhadap suatu pabrik yang menghasilkan produksi dengan mutu yang baik.
Produksi dengan mutu yang baik tentu mempunyai kemungkinan pemasaran yang baik. Dengan kata lain, produksi yang bermutu baik akan marketable. Pabrik penghasil produksi yang bermutu itu akan dikenal oleh masyarakat dan apabila tetap dapat mem-pertahankan mutu produksinya, dia akan mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Begitu pula halnya dengan lembaga pendidikan. Apabila lulusannya bermutu, lulusan lembaga pendidikan tersebut akan mudah mencari pekerjaan karena lulusan-lulusannya dibutuhkan oleh ma-syarakat. Dengan demikian, lembaga pendidikannya pun akan mendapat penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Bila lembaga pendidikan itu dapat mempertahankan mutu lulusan-lulusannya, ia akan mendapat kepercayaan masyarakat. (Sumber: Suparno & Yunus, 2006)

Teknik Klasifikasi
Mengklasifikasikan berarti mengelompokkan barang, benda, objek, gagasan, atau masalah ke dalam kelompok tertentu. Dalam teknik klasifikasi, penulis mengelompokkan hal yang sudah dikemukakan dalam kalimat topiknya atas dasar kriteria pengelompokan tertentu. Teknik klasifikasi diuraikan dengan menampilkan kalimat topik (KT) yang berupa gagasan pokok pengklasifikasian, kemudian diikuti rincian klasifikasi (RK). Teknik ini dapat dirumuskan “KT + RK1 + RK2 + RKn”.
Contoh:
Dalam karang-mengarang (KM) atau tulis-menulis dituntut beberapa kemampuan antara lain (1) kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan (2) kemampuan pengembangan atau penyajian. Yang termasuk kemampuan kebahasaan adalah kemampuan menerapkan (a) ejaan, (b) pungtuasi, (c) kosakata, dan (d) kali-mat. Yang termasuk kemampuan pengembangan ialah (e) kemampuan menata paragraf, (f) kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan (g) kemampuan menguraikan pokok bahasan ke dalam urutan yang sistematik.
Kemampuan menerapkan ejaan ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemampuan menggunakan pungtuasi --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemampuan menggunakan kosakata ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemampuan menggunakan kalimat -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemampuan menata paragraf -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teknik Analisis Proses
Memaparkan proses berarti memberi penjelasan tentang bagaimana bekerjanya sesuatu, bagaimana terjadinya sesuatu, bagaimana membuat sesuatu, dan bagaimana mengerjakan sesuatu. Teknik dipaparkan dengan mengemukakan kalimat topik yang diikuti dengan langkah-langkah secara berurutan. Teknik ini dapat dirumuskan “KT + L1 + L2 + Ln”.
Contoh:
Ada tiga langkah dalam memahami makna teks puisi. Ketiga langkah itu adalah (1) memastikan apa yang dikatakan oleh penyairnya, (2) memperkirakan makna tersirat dalam teks puisi itu, dan (3) menguji interpretasi sementara dengan membaca ulang teks puisi.
Langkah pertama berupa penafsiran makna tersurat atau makna literal puisi. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Langkah kedua berupa penafsiran makna tersirat atau makna tersembunyi. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Langkah ketiga berupa pemvalidasian perkiraan makna kata dan kalimat tersebut dalam wacana puisi secara utuh. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teknik Sebab-Akibat.
Teknik sebab-akibat adalah teknik penjabaran yang membahas sebab-sebab terjadinya sesuatu kemudian diikuti pembahasan mengenai akibat-akibatnya. Ada dua cara yang dapat ditempuh: (1) cara blok, dan (2) cara mata rantai. Dalam “cara blok”, alasan dan pengaruh dipaparkan dalam satu keutuhan tersendiri. Dalam “cara mata rantai”, alasan dan pengaruh dipaparkan secara sendiri-sendiri.
Contoh:
Gerakan kebebasan perempuan di sebagian besar belahan dunia dimulai pada pertengahan abad kedua puluh. Mereka umumnya berjuang memperoleh kesempatan dan peranan lebih hampir di seluruh sektor kehidupan. Peranan tradisional sebagai isteri dan ibu perlu diperluas. Khusus di Amerika Serikat, gerakan tersebut dapat ditelusuri sebab musababnya dari tiga peristiwa penting, yakni (a) ditemukannya teknologi pengendali kelahiran, (b) ditemukannya teknologi penghemat urusan rumah tangga, dan (c) pecahnya perang dunia kedua.
Sebab pertama --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------. Dampak dari faktor pertama -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebab kedua ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Dampak dari faktor kedua --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebab ketiga ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Dampak dari faktor ketiga --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kesimpulannya adalah bahwa --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Teknik Pemecahan Masalah
Teknik ini merupakan variasi sebab akibat. Pemecahan masalah bertolak dari hubungan kausal dilengkapi dengan alternatif pemecahannya. Teknik dapat dipaparkan dengan tiga kemungkinan: (1) satu masalah+satu pemecahan, (2) satu masalah+dua atau lebih pemecahan, dan (3) dua atau lebih masalah+satu pemecahan.
Contoh:
Sejak semula perencanaan penggalian Terusan Panama dihadapkan pada tiga masalah besar, yakni (1) politik, (2) geologi, dan (3) sosial. Ketiga masalah itu dipaparkan berikut.
Masalah politis ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masalah geologis --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------.
Masalah sosial -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada akhirnya, ketiga masalah besar tersebut menjadi wajar dan manusiawi. Tergalinya Terusan Panama adalah jawaban impian manusia selama berabad-abad untuk bisa berlayar ke arah barat, yakni Cina. Gagasan penggalian Terusan Panama memang telah ada sejak zaman Columbus. Penjelajah Spanyol itu menyadari bahwa setiap pelayaran ke barat, ke Cina, selalu terhalang oleh dua benua dan sederet daratan sempit. Jalur tersebut dapat dipersingkat dengan cara membuat sebuah terusan. Terusan Panama akhirnya dibuka tanggal 15 Agustus 1914 untuk memberikan solusi atas masalah yang menggunung selama empat abad.

Teknik Definisi
Mendefinisikan berarti memberi pengertian terhadap sebuah konsep tertentu. Ada beberapa macam definisi yang dapat digunakan, yakni (1) sinonim, (2) definisi formal, dan (3) definisi luas. Teknik ini dipaparkan dengan mengemukakan kata atau istilah kunci (IK) yang ditampilkan dalam kalimat topik yang kemudian diikuti dengan rumusan definisinya (D). Teknik ini dirumuskan dengan “KT + D1 + D2 + Dn”.
Contoh:
Ilmu kimia adalah cabang ilmu alamiah yang mempunyai tugas menyelidiki bahan-bahan yang menjadikan dunia. Ilmu kimia tidak berkaitan dengan bentuk-bentuk bahan-bahan itu dibangun. Benda-benda seperti kursi, meja, vas, botol, atau kawat tidak signifikan bagi ilmu kimia, tetapi substansi seperti gelas, wool, besi, belerang, dan tanah liat sebagai bahan-bahan untuk membuat benda-benda itu merupakan objek kajiannya. Ilmu kimia tidak hanya berkepentingan dengan komposisi substansi seperti itu, tetapi juga dengan struktur dalamnya.
Komposisi substansi -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Struktur dalam ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

4. Menguraikan Bagian Penutup
Bagian penutup tulisan keilmuan lazim berisi ringkasan, simpulan, dan saran-saran (jika dipandang perlu). Jika berupa ringkasan, penutup berupa pemangkasan, pemadatan uraian asli. Berikut dikemukakan tujuh hal yang perlu diperhatikan dalam meringkas.
1. susunan/urutan gagasan dalam bahasan dipertahankan
2. ilustrasi dan contoh diabaikan
3. gagasan dinyatakan dalam kalimat asli penulis
4. informasi baru tidak boleh dimasukkan ke dalam ringkasan
5. pendapat penulis sendiri tidak boleh dimasukkan
6. ringkasan disajikan kurang lebih seperlima uraian bahasan
7. ringkasan penutup dinyatakan dalam paragraf ringkasan
Jika berupa simpulan, penutup berupa pemberian pendapat dengan ringkas berdasarkan uraian bahasan. Dalam menyimpulkan, penulis menyatakan pendapat keilmuan sendiri berdasarkan uraian bahasan.
5. Penutup
Paparan di atas mungkin saja masih bersifat terlalu umum karena tidak menampilkan problematika atau contoh-contoh yang spesifik. Akan tetapi, dengan berpraktik langsung menulis dan mengembangkan karya ilmiah kita akan semakin memahami liku-liku dan persoalan-persoalan praktis dalam menulis dan mengembangkan karya ilmiah itu. Selamat berpraktik! Selamat berproses! Selamat mengoptimalkan potensi diri. Merdeka!

DAFTAR RUJUKAN
Johannes, Herman. 1983. Gaya Bahasa Keilmuan. Dalam Halim, A. & Lumintaintang, Y.B. (Eds.), Kongres Bahasa Indonesia III (halaman 644—649). Jakarta: P3B.
Keraf, Gorys. 1984. Komposisi. Ende-Flores: PENERBIT NUSA INDAH.
Suparno & Yunus, Muhammad. 2006. Keterampilan Dasar Menulis. Buku Materi Pokok PGSD4303. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Suwignyo, Heri. & Santoso, Anang. 2007. Bahasa Indonesia Keilmuan: Berbasis Area Isi Keilmuan. Buku Ajar BIK. Malang: Universitas Negeri Malang


LAMPIRAN: FORMAT MAKALAH

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
(dirumuskan dalam kalimat pertanyaan)
1.3 Tujuan
(dirumuskan dalam kalimat deklaratif sesuai dengan rumusan masalah)
2. Bahasan (jabaran dari rumusan masalah)
2.1 (diisi sub judul sesuai dengan rumusan masalah 1, dan dijabarkan dengan berbagai teknik pengembangan)
2.2 (diisi subjudul sesuai dengan rumusan masalah 2, dan dijabarkan dengan berbagai teknik pengembangan)
2.3 (diisi sesuai dengan rumusan masalah 3, dan dijabarkan dengan berbagai teknik pengembangan))
2.4 dan seterusnya
3. Penutup
3.1 Simpulan
(jumlah simpulan harus sama dengan jumlah rumusan masalah)
3.2 Saran-saran
(sifatnya manasuka, boleh ada dan boleh tidak sesuai dengan karakter makalah yang dibuat)
Daftar Rujukan

(Dr. Anang Santoso adalah dosen Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM). Makalah dipresentasikan dalam Pelatihan bagi guru-guru SMA Center Bahasa, se-Kabupaten Belu di Atambua, Nusa Tenggara Timur, tanggal 13—19 Desember 2007.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar